header-www_tigabinanga_net artikel-www_tigabinanga_net join-now-www_tigabinanga_net

26/08/2010

Kenangan Sungai di Tigabinanga

Posting: tigabinanga.net
Kategori: Jusupta Tarigan


Jusupta Tarigan

Me Bias Kenangen Ingan Ridi Ibas Tigabinanga

Mejuah-juah man banta kerina,

Arah tulisen enda ateku gelah kita erdiate man lingkungen, sebab piga-piga ingan ridi si kusuratken enda rontang perbahan kinilangasupenta njaga lingkungen ibas kutanta Singalorlau.

Lau Bengab/Lau Gertak. Lau Bengab e me ingan ridi si paling terkenalna ibas kota Tigabinanga. Tupung mbelin lau (musim banjir), megati enterem jelma ndarami ranting sinibaba lau ibas gugung nari (Kuta Raja ras Kuta Galoh) guna kayu bakar (tupung si e gas lenga lit janah sitik ngenca keluarga si make kompor minyak tanah). Adi tupung kerja tahun, lau bengab menjadi ajang reunian man kalak perantau si enggo ndekah nadingken Tigabinanga, janahna ridi janahna peburo ate tedeh ras pe ercerita masa lalu. Gundari, kenangen e tading risona nari ngenca.

Lau Batu. Lau Batu inganna arah kenjulu lau bengab. Gelar lau e sesuai ras situasi sekelilingna ija ikelilingi batu-batu cadas si terjal. Emaka arus lau pe deras. Lau batu eme sada ingan simegati ijadiken anak-anak ingan mantem takal (terjun bebas dengan posisi kepala menghujam permukaan sungai) datas batu nari. Emaka megati rusur terjadi kekonyolan-kekonyolan kecil bage: takal bocor, bibir pecah, ipen naktak/copot ras sidebanna. Kondisi gundari kuakap enggo bali ras lau Bengab, tading risona.

Tapin Pa Taheng. Tapin enda igelari tapin Pa Taheng erkiteken ingan enda ingan ridi bapa Taheng, janah ia me sipemena mbersihken ras ngerawat tapin enda. Emaka tangkas ingan enda igelar tapin Pa Taheng (ingan ridi bapaknya si Taheng). Tapin enda inganna ibas kenjahe Lau Bengab. Tapin end ape nasibna bali ras Lau Bengab ras lau Batu, tading risona kerina.

Lau Ruam, Lau Ruam identik ras Jalan Ruam, perbahan si ridi ije mayoritas kalak si rumahna ibas jalan ruam. Adi nai, adi lit kenca kalak silatading ibas jalan ruam (atau kerabat dari salah satu keluarga jalan ruam) ridi ibas lau ruam, maka megati ‘i ganggui’. Uga gundari kondisi Lau Ruam? Aku labo kueteh uga kondisina gundari, tapi yakin aku kondisina pe labo ndauh ras ingan ridi sideban.

Janah ibas piga-piga waktu belakangen, muncul pemandian Colia ija ikombinasiken ras pengambilen pasir, emaka pantai Colia enda labo terkenal bage ingan ridi-ridi sideban. Uga nge ndia ingan ridi enda 10 tahun sireh enda? Terbayang aku kubas masa-masa si enggo lewat, ija Namo Karang lenga terkenal bage sigundari enda, ija upung kerja tahun kenca enterem kalak ridi-ridi ibas tapin-tapin sikutulisken idatas. Lau Bengab Simalem, Tapin Pa taheng, Lau Ruam, Lau Batu riwayatmu kini……………..

jembatan-tigabinanga-5

Oleh : Jusupta Tarigan, Bogor

01/02/2010

Mengurai benang kusut jalan raya Kaban Jahe-Tiga Binanga: Sebuah Opini

Posting: tigabinanga.net
Kategori: Jusupta Tarigan


Jusupta Tarigan

Judul: Mengurai benang kusut jalan raya Kaban Jahe-Tiga Binanga : Sebuah Opini
Tanggal: 1 Februari 2010
Oleh: Jusupta Tarigan
Send via: Email

Berbicara mengenai jalan, orang akan langsung berpikir akan fungsinya. Fungsi sebuah jalan tidak hanya untuk menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya ataupun sekedar membuka keterisoliran satu daerah. Lebih dari itu, fungsi jalan sangat berperan penting dalam mendukung semua kegiatan masyarakat baik dilihat dari sisi budaya, ekonomi, sosial, ekologis serta lingkungan.

Dalam mewujudkan prasarana transportasi darat melalui jalan, harus terbentuk wujud jalan yang menyebabkan para pelaku perjalanan baik orang maupun barang, selamat sampai di tujuan, dan dalam mendukung kegiatan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, perjalanan harus dapat dilakukan secepat mungkin dengan biaya perjalanan yang adil sehingga dapat dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Disamping itu, adalah hal yang ideal untuk pelaku perjalanan, selain dapat dilakukan dengan selamat, cepat dan murah, juga nyaman, sehingga perjalanan tidak melelahkan.

Namun, orang sering sekali mengabaikan aspek pemeliharaan sebuah jalan secara berkesinambungan agar berfungsi optimum sesuai dengan standarnya. Proses pembangunan sebuah jalan di Indonesia dibuat melalui pendekatan pengembangan wilayah agar tercapai keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar daerah membentuk dan memperkokoh kesatuan nasional.

Seperti kondisi jalan lintas Kaban Jahe-Tigabinanga saat ini, sangat mustahil bisa menikmati kenyamana oleh para pengguna jalan yang melintasi rute tersebut (menghubungkan ibu kota Kabupaten) dengan beberapa kota kecamatan lainnya (Tigabinanga, Mardingding, Lau Baleng, Juhar dan Taneh Pinem). Jangankan dari sisi kenyamanan, keselamatan pengguna jalan tersebut juga sangat riskan melihat kondisi jalan saat ini. Truk terperosok, mobil pribadi yang tersangkut hingga pengguna sepeda motor yang terjatuh sudah merupakan pemandangan umum di sepanjang jalan menuju Tigabinanga.

Mengurai benang kusut perihal siapa yang bertanggunjawab akan pemeliharaan jalan Kaban Jahe-Tigabinanga bagaikan sebuah permainan “petak umpet”. Sebagai jalan negara (yang menghubungkan propinsi sumatera utara dan aceh) seyogianya urusan pemeliharaan menjadi tanggung jawab negara yang secara teknis dilimpahkan kepada dinas pekerjaan umum (PU) tingkat propinsi. Pemerintah Kabupaten Karo seharusnya juga tidak berpangku tangan melihat kondisi ini. Pihak pemerintah Kabupaten Karo seharusnya bersikap pro aktif dalam menyampaikan dan mendapatkan dana pemeliharaan kepada propinsi sehingga sepanjang tahun selalu ada dana yang tersedia untuk pemeliharaan jalan ini. Jangan hanya bisa melempar masalah dengan berkata: “ini kan jalan propinsi, seharusnya yang bertanggung jawab adalah pemerintah tingkat I”, memangnya Kabupaten Karo itu bukan bagian dari pemerintah sumatera utara??. Saya ragu, jangan-jangan dana pemeilharan jalan lintas Kaban Jahe-Tigabinanga tidak ada dalam anggaran di tingakt propinsi (kalau memang benar tidak ada) berarti pemerintah Kabupaten Karo yang tidak mengajukan!!.

Melihat kondisi jalan yang ada saat ini, sudah selayaknya masyarakat pengguna jalan tersebut melakukan tuntutan terhadap pemerintah Kabupaten Karo dan pemerintah propinsi sumatera utara agar kondisi jalan linta Kaban Jahe-Tigabinanga dapat segara diperbaiki. Tuntutan kita didasari oleh hakikat pembangunan jaringan jalan nasional yaitu untuk agar tercapai keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar daerah dan memperkokoh kesatuan nasional.

Kedepannya jalan lintas Kaban Jahe-Tigabinanga haruslah disesuaikan dengan sifat, karakter dan klasifikasi dari jalan tersebut. Untuk memudahkan pemeliharaan jalan lintas Kaban Jahe-Tigabinanga harus dibangun satu aturan bagi pengguna jalan dengan memperhatikan dimensi dan beban kendaraan yang akan melaluinya. Bentuk dan dimensi optimum dari jalan inilah yang harus ditetapkan secara optimum untuk mewujudkan jalan yang aman dan terpelihara dengan baik sehingga menyebabkan perjalanan orang dan barang selamat sampai ke tujuan dengan mudah, cepat dan ekonomis.

Semoga benang kusut pemeliharaan jalan Kaban jahe-Tigabinanga segera diselesaikan.

21/12/2009

PEMEKARAN KECAMATAN TIGABINANGA (SINGALOR LAU) MENJADI KABUPATEN SEBUAH ANGAN-ANGAN ATAU CITA-CITA YANG NYATA

Posting: tigabinanga.net
Kategori: + Artikel, Yos Arnold Tarigan


+ Artikel, Yos Arnold Tarigan

PEMEKARAN KECAMATAN TIGABINANGA (SINGALOR LAU) MENJADI KABUPATEN SEBUAH ANGAN-ANGAN ATAU CITA-CITA YANG NYATA

Judul : Pemekaran Kecamatan Tigabinanga…
Tanggal : 21 Desember 2009 jam 01:45
Oleh :  Yos Arnold Tarigan, SH
Sumber : Dikirim Via Email

Wilayah adalah lingkungan daerah kekuasaan, lingkungan daerah pemerintahan seperti provinsi, kabupaten, kecamatan, kelurahan. “Mekar” artinya berkembang, bertambah luas, menjadi besar; “pemekaran” artinya hal memekarkan. Dalam hal pemekaran daerah tentunya suatu wilayahnya menjadi lebih kecil, luasnya berkurang, penciutan. Bila yang disebut adalah “pemekaran daerah”, yang terjadi memang tambahan daerah, yang semula satu daerah (kabupaten) menjadi dua kabupaten/kota, namun wilayahnya bertambah sempit. Terjadi penciutan wilayah kabupaten semula, sedangkan wilayah kabupaten tak bisa dikatakan berkembang karena semula memang tidak ada.

Diera otonomi ini masing-masing daerah menuntut memisahkan diri dari Provinsi maupun Kabupaten/Kota induknya untuk membentuk sebuah pemerintahan baru. Pemekaran atau pembentukan pemerintahan baru itu dinilai positif untuk untuk pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Begitu pula halnya dengan sebuah kecamatan yang hendak mekar menjadi kabupaten. Setidaknya ada tiga alasan utama dari pemekaran tersebut yaitu mendekatkan pelayanan karena rentang kendali menjadi pendek, percepatan pembangunan dan pemerataan pembangunan daerah. Namun inti dari alasan tersebut ialah mencipatakan pemerintahan daerah yang efektif, adil, merata, mudah dan murah. Di Kabupaten Karo sebenarnya telah ada kota yang telah disetujui untuk dimekarkan yaitu Kota Berastagi menjadi pemerintahan kota dalam arti Berastagi akan mekar atau berpisah dari Kabupaten Karo, Melalui rapat paripurna pada hari Senin 17 Desember 2007 yang lalu, DPRD Sumatera Utara menyetujui pemekaran Kabupaten Karo menjadi dua wilayah. Yakni Kabupaten Karo sebagai kabupaten induk dan Kota Berastagi. Pemekaran itu dinilai layak untuk percepatan pembangunan.

Pemekaran daerah boleh saja dan sah-sah saja, tetapi landasannya harus jelas dan logis dilihat dari perpektif ruang wilayah dan rentang kendali yang efisien serta demi kepentingan pengelolaan perkembangan dan pengembangan rakyat daerah yang bersangkutan. Sekarang sedang menjadi mode upaya meningkatkan status suatu daerah ke taraf di atasnya. Desa menjadi kelurahan, kelurahan menjadi kecamatan, kecamtan menjadi kabupaten/kota, kabupaten/kota menjadi provinsi, bahkan ada provinsi yang ingin menjadi negara. Luar biasa!

Pemekaran Kabupaten atau kecamatan merupakan kebutuhan dan aspirasi masyarakat guna meningkatkan dan mempercepat pelayanan publik dan kesejahteraan. Demikian halnya di Kabupaten Karo dengan Berastaginya yang telah disetujui untuk dimekarkan menjadi Kota dan tentunya Kabupaten Karo menjadi dua wilayah. Yakni Kabupaten Karo sebagai kabupaten induk dan Kota Berastagi.

Wilayah kecamatan yang selama ini dinilai kurang cepat berkembang atau cenderung lambat tentunya guna mempercepat perkembangannya diperlukan pemerintahan yang otonom. Kecamatan Tigabinanga yang dikenal dengan istilah daerah Singalor Lau tentunya juga dapat dimekarkan jika masyarakat dan situasi serta kondisi wilayahnya memenuhi syarat, pemekaran kecamatan Tigabinanga menjadi Kabupaten tentunya bertujuan untuk meningkatkan dan mempercepat pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat, jika kecamatan mekar menjadi kabupaten maka desa yang ada di daerah tersebut juga harus dimekarkan menjadi kecamatan, hal tersebut sesuai dengan syarat administratif pemekaran daerah seperti yang tertuang dalam UU No. 32 tahun 2004 dan PP No. 129 misalnya jumlah kecamatan minimal lima. Jika jumlah kecamatan masih belum cukup maka panitia pemekaran harus segera berusaha untuk memenuhinya dengan mengadakan pemekaran kecamatan dan jika desa untuk membentuk kecamatan tersebut masih belum cukup maka harus diadakan pemekaran desa terlebih dahulu. Hal tersebut tentunya membutuhkan proses yang panjang, mulai dari pembentukan panitia kemudian memekarkan desa menjadi kecamatan agar syarat pemekaran daerah terpenuhi.

Kecamatan Tigabinanga yang dikenal dengan istilah Singalor Lau merupakan kota dan desa yang kental akan sejarah dengan nuansa keramah tamahan masyarakatnya. Dengan luas wilayah 160,38 km², Penduduk 17.261 jiwa dan Kepadatan 108 /km². Wilayah Tigabinanga berada diketinggian 600M diatas permukaan laut dengan temperatur 18 derajat Celcius sampai 22 derajat Celcius sehingga daerah tersebut termasuk berhawa sejuk dan dikenal sebagai daerah penghasil jagung terbesar dan terbaik di Kabupaten Karo, wilayah administrasi Kecamatan Tigabinanga adalah Simpang, Pergendangen/ Perlamben, Pergendangen, Lau Kapur, Kem Kem , Gunung, Tigabinanga (menjadi Ibukota Kecamatan), Kuta Galoh, Kuta Raya, Pertumbuken, Kuala, Kuta Buara, Simolap, Kuta Bangun, Sukajulu, Kutambaru Punti, Kuta Gerat, Bunga Baru, dan Perbesi. Dengan luas daerah dan penghasilan pertanian yang cukup baik maka daerah kecamatan Tigabinanga tentunya amat potensial untuk diwacanakan pemekaranya menjadi sebuah Kabupaten.

Angan-angan dan cita-cita memekarkan kecamatan Tigabinanga menjadi Kabupaten yang mungkin namanya diberikan Kabupaten Singalor Lau (diberikan nama Singalor Lau oleh penulis karena dasar pemikiran dari julukan atau istilah yang diberikan bagi daerah Tigabinanga adalah Singalor Lau) bertujuan untuk kepentingan masyarakat kecamatan Tigabinganga dan tentunya pemekaran harus membawa manfaat nyata bagi masyarakat Tigabinanga pula, Namun seiring adanya pemberlakuan otonomi daerah (desentralisasi), banyak pihak yang masih tidak memahami otonomi daerah. Bahkan, asumsi pemekaran seolah-olah diintegrasikan dalam nafas otonomi daerah tersebut. Sehingga, otonomi daerah diselewengkan menjadi pemekaran wilayah. Padahal, otonomi daerah hakikatnya adalah mendekatkan pelayanan kepada masyarakatnya, termasuk penciptaan pemberdayaan masyarakat. Serta, mereka juga di harapkan mampu menyelesaikan persoalan sendiri dan menghasilkan kebijakan yang bertujuan mensejahterakan masyarakat.

Pemekaran kecamatan Tigabinanga menjadi Kabupaten hanya akan menjadi angan-angan dan cita-cita tanpa adanya proses langkah yang nyata dari sejak dini karena proses yang dilalui amatlah panjang, apalagi pemerintah sekarang menginginkan pemekaran daerah ditunda untuk sementara waktu dan kini makin tertutup celahnya akibat kasus Protap, alasan pemerintah menunda pemakaran adalah agar dilakukan terlebih dahulu proses evaluasi dan disusunnya rencana umum otonomi daerah Indonesia agar daerah baru bisa mempersiapkan pemilu, hal itu akan dilakukan karena pemerintah masih mengevaluasi pemekaran daerah serta menyelesaikan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 129 Tahun 2000 yang mengatur pembentukan dan penggabungan daerah.

28/08/2009

” TUHAN KENAPA SAYA TIDAK MASUK SORGA???”

Posting: tigabinanga.net
Kategori: + Artikel, Adri Lingga Gayo


+ Artikel, Adri Lingga Gayo

Judul : “Tuhan Kenapa Saya Tidak Masuk Surga???”
Tanggal : 02 Februari 2009 jam 17:07
Oleh : Adri Lingga gayo
Sumber : Facebook

Ada seorang wanita setengah baya bertanya kepada Tuhan: ” Oh Tuhan ku kenapa saya masuk neraka jahannam ini? padahal saya sudah sholat 5 waktu tanpa pernah telat, sholat sunnah pun semua saya laksanakan, puasa tidak hanya di bulan Ramadhan, puasa senin kamis, puasa nabi Daud dan puasa sunat lainnya saya laksanakan, zakat fitrah dan zakat mall saya bayarkan, dan saya sudah naik haji 12 x dan umroh sudah berkali-kali koq saya tidak masuk surga” Hu..hu..hu, tangisnya terisak isak, dan sangat tidak percaya kenapa dia tidak masuk surga…………

” Ehm..coba-coba diingat ingat lagi apa yg tidak pernah kamu lakukan bahkan kamu sering menyakitinya”..kata Tuhan.

” Akh..seingat saya gak ada Tuhan, semua sudah saya lakukan dan saya tidak pernah menyakiti hati suami saya maupun orang lain..” kata wanita itu lagi sambil tersedu sedan dan menghapus bulir air matanya.

Setelah hening sejenak lalu Tuhan pun berbicara pelan:

“Karena engkau mendesakku untuk menjawab kenapa kamu Tidak masuk surga…maka perlu kamu ketahui bahwa persoalannya sangatlah sepele…tetapi itulah yang membuat kamu tidak masuk surga walaupun kamu sudah melaksanakan semua kewajibanmu itu….yakni…….karena kamu
TIDAK MEMBERI MAKAN KUCINGMU YG KELAPARAN MENGEONG NGEONG SETIAP HARI DAN BAHKAN KAMU KADANG MENENDANG DAN MENYIRAM PAKE AIR PANAS kan…”

Baru si wanita itu tersadar dan memohon ampun kepadaNya.

Bisa kita bayangkan cerita sufi tersebut memberikan makna jangankan kita tidak memberi makan kucing saja sudah tidak jaminan untuk masuk surga, bagaimana kalau kita tidak memberi makan anak yatim…luar biasa…percuma rasanya kita beribadah yg seringkali sifatnya ria yg sekedar mempertontonkan diri kita yang taat padahal sifat dasar keagaamaan kasih sayang dan rahmatan lil alamin itu pada hakikatnya kita lupa…atau sengaja kita lupa lupa kan.

Marilah kita beribadah dan memberikan kasih sayang kita kepada sesama terutama kepada anak yatim, fakir miskin dan kaum duafa…apapun agama dan kepercayaannya semua adalah satu wajib kita saling kasih mengasihi.

Salam sayang ku untuk kita semua. One For All, All for One.

20/07/2009

Skenario Pembangunan Berbasis Lahan Di Tigabinanga: Sebuah Opini

Posting: tigabinanga.net
Kategori: + Artikel, Jusupta Tarigan


+ Artikel, Jusupta Tarigan

Judul: Skenario Pembangunan Berbasis Lahan Di Tigabinanga: Sebuah Opini
Tanggal: 17 Juli 2009
Oleh: Jusupta Tarigan
Send via: Email

“Lahan yang dulunya tak dimanfaatkan seperti jurang, semak belukar, lembah, empang dan kerangen kuta, sekarang habis digarap. Tidak ketinggalan lereng gugusan Hutan Negara (Bukit Barisan) yang dulunya adalah tanah kosong, gersang juga digarap jadi ladang jagung”.  Puncak ekpansi perubahan lahan ini terjadi sekitar tahun 2005-2006 pada saat harag jagung melambung tinggi hingga mencapai Rp 2500 per kg”.

Seperti itulah gambaran penggunaan lahan di kecamatan Tigabinanga saat ini. Dari total luas lahan pertanian yang ada saya yakin lebih dari 80% penggunaanya adalah untuk kebun jagung.  Di satu sisi kita bisa bangga akan status “daerah sentra produksi jagung tidak saja pada level kabupaten tapi juga pada level propinsi.  Tapi dilain sisi, perubahan dan perluasan lahan kebun jagung ini ternyata sudah pula merubah tatanan/kebiasaan masyarakat Singalor lau dalam mengelola ladang/kebun.  Dulu, masyarakat petani bersama anak dan istri mengerjakan sendiri seluruh pekerjaan, mulai dari pengolahan lahan, penanaman sampai panen. Bahkan ada kebiasaan “ARON” (gotong royong) dengan kerabat atau sahabat. Sekarang, masyarakat petani sepertinya telah berubah jadi “majikan”. Seluruh proses penggarapan diupahkan dengan memakai tenaga buruh. Bahkan bagi yang tidak punya modal, dapat meminjam pada “gudang” (pemilik kilang jagung) tapi dengan syarat jagung yang akan dipanen harus dirontokkan di kilang si pemberi modal.

Apakah dengan semakin bertambahnya luas lahan jagung di Tigabinanga berkorelasi positif juga dengan bertambahnya kesejahteraan masyarakat petani jagung? Untuk menjawab ini tentu saja harus dilakukan penelitian dengan memakai satu acuan waktu. Dari pengamatan dan juga diskusi yang saya lakukan dengan beberapa petani jagung yang ada di Tigabianga, rata-rata berkata “tidak ada” korelasi positifnya. Malah beberapa teman diskusi memberikan fakta baru bahwa yang lebih sejahtera dari perluasan lahan jagung ini adalah para “buruh tani” yang semuanya berasal dari luar Tigabinanga. Saking tingginya ketergantungan akan tenaga “buruh tani” ini, tidak jarang beberapa kelompok ini sudah di booking jauh hari sebelum musim tanam jagung tiba, luar biasa!!!!.  Bahkan para “buruh tani” ini juga sudah mulai terlihat dan dipandang keberadaanya di sector usaha lain seperti : becak motor (betor), warung kopi, rumah makan dan lain-lain. Sungguh satu pemandangan yang menggelitik untuk dicermati lebih jauh lagi.

 

Melihat fenomena penggunaan lahan di atas dan untuk lebih memberikan alternatif sumber penghidupan yang lebih “pro lingkungan” di Tigabinangan tercinta, maka sudah saatnya masyarakat petani dan pemerintah kecamatan berani melihat komoditas di luar jagung. Dilihat dari bentang lahan dan topograpinya (625 meter dpl, topografi dataran berombak 15 %, berombak-berbukit 35%, berbukit-bergunung 50% dan suhu udara antara 18 C - 30 C, kelembaban udara harian rata-rata 72%, maka sejatinya bentang lahan di kecamatan Tigabinanga dapat dikelola dengan tiga skenario pembangunan berbasis lahan, yaitu:

  1. Penataan pembangunan lahan berbasis jagung : Untuk skenario ini perlu melakukan peninjauan ulang terhadap lokasi-lokasi kebun/ladang jagung yang ada saat ini. Lokasi ladang/kebun jagung yang tidak sesuai dengan kriteria kesesuaian lahan seperti yang dianjurkan oleh pusat penelitian dan pengembangan lahan pertanian Bogor sebaiknya diganti dengan tanaman lain sangat sesuai dengan lahan tersebut. Melakukan hal ini memang tidak mudah, tapi pengalaman saya bekerja bersama petani jika berbicara mengenai unutng rugi akan lebih mudah untuk meyakinkan mereka. Untuk lahan-lahan yang sudah sesuai dengan kriteria, kepada petani perlu diberitahukan arti pentingnya masa ”bera” (masa dimana lahan/tanah tidak diusahakan) kepada tanah yang diusahakan. Saya melihat tanah/lahan jagung yang diusahakan tidak pernah diberikan kesempatan untuk istirahat. Seandainya tanah/lahan itu bisa bicara mungkin dia akan berkata: ”Tahun enda aku cuti lebe bapa/nande/turang, enggo latih kuakap ngarap-ngarak kam selama enda”.
  2. Pembangunan lahan berbasis cacao (coklat) : Penanaman tanaman coklat di kecamatan Tigabinanga relatif baru, dimana sekitar akhir tahun 80-an dan diawal tahun 90-an  hanya beberapa petani saja yang menanam tanaman ini. Booming bertanam coklat terjadi pertengahan tahun 90-an sampai dengan saat ini. Hadirnya tanaman coklat seiring tidak bisa dilepaskan juga dari akibat jatuhnya keinginan masyarakat menanam jeruk.  Salah satu keunggulan tanaman ini adalah kemampuanya untuk hidup dengan tanaman keras lainnya, sehingga bisa ditumpangsari dengan beberapa tanaman keras lainnya dan sekaligus juga menjadi tanaman pelindung. Jika dilihat dari sisi ekologis dan ekonomis, tanaman ini memang cocok untuk dikembangkan di Tigabinanga. Sebagai tanaman pelindung pada saat berusia muda (0-2 tahun) bisa menggunakan pisang atau pohon gamal (kayu embun), sedangkan untuk pohon pelindung permanen bisa ditanam pohon petai (pariria) maupun durian.
  3. Pembangunan lahan berbasis buah-buahan campuran : Saat ini memang sangat sulit bahkan hampir tidak ada satu bentang lahan di Tigabinanga yang ditanami dengan buah-buahan yang berorientasi pasar. Jika dilihat dari topograpinya, topograpi berlereng dan berbukit yang sekitar 35%-50% itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bertanam buah-buahan. Disamping akan memberikan hasil berupa buah, kebun buah campuran ini juga dari sisi ekologis hampir menyerupai hutan. Sehingga akan didapat dua manfaat sekaligus yaiut manfaat ekonomi dan ekologis. Saya tidak bisa menjawab, ketika teman diskusi saya bertanya: Kalau saya ke Tigabinanga, oleh-oleh buah apa yang bisa saya bawa yang menjadi ciri khas kota Tigabinanga?   

Opini ini saya tulis murni karena kepedulian saya terhadap isu-isu pertanian dan semakin sulitnya melihat barisan pepohonan di sekitar Tigabinanga. Sebagai seorang anak petani yang lahir dan dibesarkan di Tigabinanga, ada kerinduan bagi saya untuk bisa memberikan sesuatu untuk taneh kemulihen. Saat ini hanya lewat tulisan dan mem-postingkanya lewat website kit aini yang bisa saya lakukan. Semoga tulisan ini memberikan sebuah inspirasi atau penambah wawasan kita bersama demi lestarinya bentang lahan di Singalorlau.  

Mejuah-juah. Bogor 16.07.09

Alamat Kami :

Chat Kami :

Hubungi Kami :

Kategori Berita / Artikel

Arsip

KOMUNITAS TIGABINANGA

    icon-facebook icon-friends icon-blog icon-ym logo-facebook-tigabinanga
    Putra-Putri Tiga Binanga Yang Sudah Mendaftar :

    No. 001
    Nama: Asramadani Ginting
    Domisili: Rantau Parapat
    Asal: Simp. Gunung

    No. 002
    Nama: Dela Bregita
    Domisili: Palembang
    Asal: Tigabinanga

    No. 003
    Nama: Florentina
    Domisili: Medan
    Asal: Tigabinanga

    No. 004
    Nama: Elvi Pebrina Tarigan
    Domisili: Batam
    Asal: Tigabinanga

    No. 005
    Nama: Rico Syahputera Karo
    Domisili: Medan
    Asal: Tigabinanga

    No. 006
    Nama: Sahabat Sembiring
    Domisili: Tangerang
    Asal: Limang

    No. 007
    Nama: Jusup Tarigan
    Domisili: Bogor
    Asal: Tigabinanga

    No. 008
    Nama: Vania C Ginting
    Domisili: Jakarta
    Asal: Tigabinanga

    No. 009
    Nama: Surya Mada Tarigan
    Domisili: Depok
    Asal: Pergendangen

    No. 010
    Nama: Mira Surbakti
    Domisili: Medan
    Asal: Kuta Bangun

    No. 011
    Nama: Albert F Sebayang
    Domisili: Medan
    Asal: Kuala

    No. 012
    Nama: Bariyah Tarigan
    Domisili: Doha - Qatar
    Asal: Tigabinanga

    No. 013
    Nama: Swadaya Sebayang
    Domisili: Pekan Baru
    Asal: Tigabinanga

    No. 014
    Nama: Chandra A Tarigan
    Domisili: Depok
    Asal: Pergendangen

    No. 015
    Nama: Baskami Tarigan
    Domisili: Kaltim
    Asal: Pergendangen

    No. 016
    Nama: Alamsyah Ginting, SP
    Domisili: Jakarta Selatan
    Asal: ---

    No. 017
    Nama: Pengarapen Karo
    Domisili: Kaltim
    Asal: Kidupen

    No. 018
    Nama: Gianita br Sebayang
    Domisili: Jakarta
    Asal: Tigabinanga

    No. 019
    Nama: Garda P Tarigan
    Domisili: Medan
    Asal: Tigabinanga

    No. 020
    Nama: Rina A Sebayang
    Domisili: Bogor
    Asal: Tigabinanga

    No. 021
    Nama: Aminuddin Sembiring
    Domisili: Bogor
    Asal: Keriahen

    No. 022
    Nama: Inganta br Sembiring
    Domisili: Surabaya
    Asal: Tigabinanga

    No. 023
    Nama: Ariston Sebayang
    Domisili: Jakarta Selatan
    Asal: Kuala

    No. 024
    Nama: Febrina br Sebayang
    Domisili: Bekasi
    Asal: Kuala

    No. 025
    Nama: Heryanza Perangin-angin
    Domisili: Medan
    Asal: Tigabinanga

    No. 026
    Nama: Tonny Angkasa Tarigan
    Domisili: Depok
    Asal: Pergendangen

    No. 027
    Nama: Laura K br Ginting
    Domisili: Medan
    Asal: Pergendangen

    No. 028
    Nama: Denny W Ginting
    Domisili: tanggerang
    Asal: Pergendangen

    No. 029
    Nama: Iman Karya Tarigan
    Domisili: Jakarta Timur
    Asal: Perlamben

    No. 030
    Nama: Alan F Bangun
    Domisili: Bogor
    Asal: Perlamben

    No. 031
    Nama: Benyamin Sembiring
    Domisili: Tigabinanga
    Asal: Batu Mamak

    No. 032
    Nama: Desman A Tarigan
    Domisili: Surabaya
    Asal: Tigabinanga

    No. 033
    Nama: Monas Tarigan
    Domisili: Medan
    Asal: Pergendangen

    No. 034
    Nama: Benny Ginting
    Domisili: Kuala
    Asal: Kuala

    No. 035
    Nama: Silveriu Bangun
    Domisili: Tigabinanga
    Asal: ----

    No. 036
    Nama: Cahaya Natalia Ginting
    Domisili: Medan
    Asal: Tigabinanga


    Ayo Segera Daftar Diri Anda

    Pendaftaran Klik Disini



Facebook Tigabinanga

Coming Soon