Membangun Tigabinanga yang Hijau
Posting: tigabinanga.net
Kategori: + Artikel, Jusupta Tarigan
+ Artikel, Jusupta Tarigan
MEMBANGUN TIGABINANGA YANG HIJAU: KEMBALIKAN KERANGEN KUTAKU (MUNGKINKAH?)
Oleh : Jusupta Tarigan
Terjadinya pemanasan global karena meningkatnya gas rumah kaca di atmosfir dan perdagangan carbon adalah dua hal yang saat ini menjadi isu dan topik utama dalam bidang kehutanan baik pada level internasional maupun nasional. Kedua hal diatas menjadikan hutan tropis Indonesia menjadi semakin dilirik oleh negara maju karena potensi hutan tropis Indonesia yang sangat besar dan penting dalam skema perubahan iklim dan pemanasan global.
Indonesia adalah negara terbesar ketiga didunia yang mempunyai kawasan hutan tropis setelah Brazil dan Kenya. Data yang dikeluarkan oleh Departeman Kehutanan melalui penafsiran citra satelit tahun 2003 menyebutkan bahwa luas kawasan hutan Indonesia adalah 187,9 juta ha. Dari luas kawasan ini sebanyak 93,9 juta ha (50%) adalah hutan, 83.3 juta ha (44%) tidak berhutan dan sebanyak 10.7 juta ha (6%) dikategorikan tidak ada data. Sebagian besar kawasan hutan yang masih berhutan terletak di Papua dan Kalimantan (sekitar 65%).
Dalam skala yang lebih kecil. Sebagai sebuah Kecamatan yang mengandalkan hasil pertanian sebagai penopang penghidupan masyarakatnya, sudah seharusnya dan sepatutnya memberikan perhatian terhadap isu perubahan iklim. Sepengetahuan saya Tigabinanga dulunya dikelilingi oleh hijaunya bukit dan pegunungan bukit barisan selatan dan kondisi tutupan hutanyapun relatif bagus. Apalagi pada jaman dulu masih banyak terdapat “kerangen kuta” di beberapa desa, sehingga udara terasa begitu segar, air tidak pernah kekurangan sehingga hasil pertanian secara umum juga selalu lebih banyak cerita suka dibanding dukanya, sehingga kedai kopi dan pasarpun selalu ramai
Sebagai putra asli Singalorlau, saya masih begitu ingat betapa dulu masih banyak terdapat ‘kerangen kuta’ di sekitar Tigabinanga. Kerangan kuta dimanfaatkan masyarakat untuk mengambil kayu bakar, daun singkut untuk membungkus cimpa, menyadap aren (pola dalam bahasa karo)dan manfaat lainnya. Tapi sekitar tahun 90-an, banyak kerangen kuta yang mulai dirambah dan dibuka oleh masyarakat untuk diambil kayunya dan dijadikan kawasan perladangan. Apalagi sejak diperkenalkanya ‘otonomi’ daerah, maka banyak terlihat masyarakat melakukan penebangan kayu di kawasan “kerangen kuta”. Fungsi kerangen kuta dengan tegakan kayu/pohon yang menyerap karbondioksida (CO2) dan mengeluarkan oksigen (O2), sebagai resapan air, menahan erosi dan fungsi-fungsi lainnya semakin berkurang sehingga dapat kita rasakan bagaimana suasana Tigabinanga pada saat ini. Udara semakin panas, hasil pertanian dari tahun ke tahun hasilnya dirasakan semakin berkurang dan yang paling parah ketersediaan air bersih semakin sedikit dan terbatas. Sehingga tidak heran ketika kerja tahun (merdang merdem) tiba, banyak kita lihat masyarakat yang mandi di sungai lau bengap simalem karena pasokan air dari PDAM berhenti total karena tidak mampu memenuhi kebutuhan air yang sangat tinggi. Padahal hal ini tidak pernah terjadi ketika kerangen kuta dan tutupan hutan sekitar Tigabinanga masih bagus.
Momen kerja tahun, bisa kita jadikan sebagai salah satu sarana untuk membicarakan membangun kembali (mengembalikan) ‘kerangen kuta’ kepada putra-putri terbaik singalorlau. Menghidupkan kembali kerangen kuta merupakan sebuah tantangan dan peluang. Tantangan terbesar tentu saja bagaimana memberikan pengertian dan mengajak masyarakat Tigabinanga akan pentingnya fungsi sebuah “kerangen”. Berbicara mengenai peluang, maka kita akan berbicara pada isu manfaat dan wewenang. Saya yakin apabila putra-putri terbaik Singalorlau mau memberikan dukungan baik dalam bentuk materi maupun non materi “kerangen kuta’ bisa kita kembalikan dan dijaga kelestariannya sehingga akan tercipta Tigabinanga yang sejuk, asri, berwawasan lingkungan sehingga akan tercipta masyarakat Tigabinanga yang sehat dan sejahtera
++> Pemerhati masalah kehutanan dan lingkungan













