Skenario Pembangunan Berbasis Lahan Di Tigabinanga: Sebuah Opini
Posting: tigabinanga.net
Kategori: + Artikel, Jusupta Tarigan
+ Artikel, Jusupta Tarigan
Judul: Skenario Pembangunan Berbasis Lahan Di Tigabinanga: Sebuah Opini
Tanggal: 17 Juli 2009
Oleh: Jusupta Tarigan
Send via: Email
“Lahan yang dulunya tak dimanfaatkan seperti jurang, semak belukar, lembah, empang dan kerangen kuta, sekarang habis digarap. Tidak ketinggalan lereng gugusan Hutan Negara (Bukit Barisan) yang dulunya adalah tanah kosong, gersang juga digarap jadi ladang jagung”. Puncak ekpansi perubahan lahan ini terjadi sekitar tahun 2005-2006 pada saat harag jagung melambung tinggi hingga mencapai Rp 2500 per kg”.
Seperti itulah gambaran penggunaan lahan di kecamatan Tigabinanga saat ini. Dari total luas lahan pertanian yang ada saya yakin lebih dari 80% penggunaanya adalah untuk kebun jagung. Di satu sisi kita bisa bangga akan status “daerah sentra produksi jagung tidak saja pada level kabupaten tapi juga pada level propinsi. Tapi dilain sisi, perubahan dan perluasan lahan kebun jagung ini ternyata sudah pula merubah tatanan/kebiasaan masyarakat Singalor lau dalam mengelola ladang/kebun. Dulu, masyarakat petani bersama anak dan istri mengerjakan sendiri seluruh pekerjaan, mulai dari pengolahan lahan, penanaman sampai panen. Bahkan ada kebiasaan “ARON” (gotong royong) dengan kerabat atau sahabat. Sekarang, masyarakat petani sepertinya telah berubah jadi “majikan”. Seluruh proses penggarapan diupahkan dengan memakai tenaga buruh. Bahkan bagi yang tidak punya modal, dapat meminjam pada “gudang” (pemilik kilang jagung) tapi dengan syarat jagung yang akan dipanen harus dirontokkan di kilang si pemberi modal.
Apakah dengan semakin bertambahnya luas lahan jagung di Tigabinanga berkorelasi positif juga dengan bertambahnya kesejahteraan masyarakat petani jagung? Untuk menjawab ini tentu saja harus dilakukan penelitian dengan memakai satu acuan waktu. Dari pengamatan dan juga diskusi yang saya lakukan dengan beberapa petani jagung yang ada di Tigabianga, rata-rata berkata “tidak ada” korelasi positifnya. Malah beberapa teman diskusi memberikan fakta baru bahwa yang lebih sejahtera dari perluasan lahan jagung ini adalah para “buruh tani” yang semuanya berasal dari luar Tigabinanga. Saking tingginya ketergantungan akan tenaga “buruh tani” ini, tidak jarang beberapa kelompok ini sudah di booking jauh hari sebelum musim tanam jagung tiba, luar biasa!!!!. Bahkan para “buruh tani” ini juga sudah mulai terlihat dan dipandang keberadaanya di sector usaha lain seperti : becak motor (betor), warung kopi, rumah makan dan lain-lain. Sungguh satu pemandangan yang menggelitik untuk dicermati lebih jauh lagi.
Melihat fenomena penggunaan lahan di atas dan untuk lebih memberikan alternatif sumber penghidupan yang lebih “pro lingkungan” di Tigabinangan tercinta, maka sudah saatnya masyarakat petani dan pemerintah kecamatan berani melihat komoditas di luar jagung. Dilihat dari bentang lahan dan topograpinya (625 meter dpl, topografi dataran berombak 15 %, berombak-berbukit 35%, berbukit-bergunung 50% dan suhu udara antara 18 C - 30 C, kelembaban udara harian rata-rata 72%, maka sejatinya bentang lahan di kecamatan Tigabinanga dapat dikelola dengan tiga skenario pembangunan berbasis lahan, yaitu:
-
Penataan pembangunan lahan berbasis jagung : Untuk skenario ini perlu melakukan peninjauan ulang terhadap lokasi-lokasi kebun/ladang jagung yang ada saat ini. Lokasi ladang/kebun jagung yang tidak sesuai dengan kriteria kesesuaian lahan seperti yang dianjurkan oleh pusat penelitian dan pengembangan lahan pertanian Bogor sebaiknya diganti dengan tanaman lain sangat sesuai dengan lahan tersebut. Melakukan hal ini memang tidak mudah, tapi pengalaman saya bekerja bersama petani jika berbicara mengenai unutng rugi akan lebih mudah untuk meyakinkan mereka. Untuk lahan-lahan yang sudah sesuai dengan kriteria, kepada petani perlu diberitahukan arti pentingnya masa ”bera” (masa dimana lahan/tanah tidak diusahakan) kepada tanah yang diusahakan. Saya melihat tanah/lahan jagung yang diusahakan tidak pernah diberikan kesempatan untuk istirahat. Seandainya tanah/lahan itu bisa bicara mungkin dia akan berkata: ”Tahun enda aku cuti lebe bapa/nande/turang, enggo latih kuakap ngarap-ngarak kam selama enda”.
-
Pembangunan lahan berbasis cacao (coklat) : Penanaman tanaman coklat di kecamatan Tigabinanga relatif baru, dimana sekitar akhir tahun 80-an dan diawal tahun 90-an hanya beberapa petani saja yang menanam tanaman ini. Booming bertanam coklat terjadi pertengahan tahun 90-an sampai dengan saat ini. Hadirnya tanaman coklat seiring tidak bisa dilepaskan juga dari akibat jatuhnya keinginan masyarakat menanam jeruk. Salah satu keunggulan tanaman ini adalah kemampuanya untuk hidup dengan tanaman keras lainnya, sehingga bisa ditumpangsari dengan beberapa tanaman keras lainnya dan sekaligus juga menjadi tanaman pelindung. Jika dilihat dari sisi ekologis dan ekonomis, tanaman ini memang cocok untuk dikembangkan di Tigabinanga. Sebagai tanaman pelindung pada saat berusia muda (0-2 tahun) bisa menggunakan pisang atau pohon gamal (kayu embun), sedangkan untuk pohon pelindung permanen bisa ditanam pohon petai (pariria) maupun durian.
-
Pembangunan lahan berbasis buah-buahan campuran : Saat ini memang sangat sulit bahkan hampir tidak ada satu bentang lahan di Tigabinanga yang ditanami dengan buah-buahan yang berorientasi pasar. Jika dilihat dari topograpinya, topograpi berlereng dan berbukit yang sekitar 35%-50% itu bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bertanam buah-buahan. Disamping akan memberikan hasil berupa buah, kebun buah campuran ini juga dari sisi ekologis hampir menyerupai hutan. Sehingga akan didapat dua manfaat sekaligus yaiut manfaat ekonomi dan ekologis. Saya tidak bisa menjawab, ketika teman diskusi saya bertanya: Kalau saya ke Tigabinanga, oleh-oleh buah apa yang bisa saya bawa yang menjadi ciri khas kota Tigabinanga?
Opini ini saya tulis murni karena kepedulian saya terhadap isu-isu pertanian dan semakin sulitnya melihat barisan pepohonan di sekitar Tigabinanga. Sebagai seorang anak petani yang lahir dan dibesarkan di Tigabinanga, ada kerinduan bagi saya untuk bisa memberikan sesuatu untuk taneh kemulihen. Saat ini hanya lewat tulisan dan mem-postingkanya lewat website kit aini yang bisa saya lakukan. Semoga tulisan ini memberikan sebuah inspirasi atau penambah wawasan kita bersama demi lestarinya bentang lahan di Singalorlau.
Mejuah-juah. Bogor 16.07.09





